Mohon maaf jika anda di alihkan ke adf.ly mohon klik SKIP AD

Tuesday, February 26, 2013

KB Dan MOW


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Program KB di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup pesat dan diakui keberhasilannya di tingkat internasional. Hal ini terlihat dari angka kesertaan ber KB (contraceptive prevalence rate) meningkat dari 26 % pada tahun 1980 menjadi, 50 % pada tahun 1991 dan terakhir menjadi 57 % pada tahun 1997.

Program KB nasional telah berjalan selama kurun waktu 4 pelita dengan hasil yang cukup menggembirakan, baik secara normatif maupun demografis. Berdasarkan hasil-hasil Survey Prevalensi Indonesia (SPI) tahun 1987, ternyata tingkat kelahiran kasar (CBR) telah menurun menjadi sekitar 28 – 29 / 1000, dan TFR menjadi sekitar 3,4 – 3,6.

Kontrasepsi mantap (kontap ) adalah suatu tindakan untuk membatasi keturunan dalam jangka waktu yang tidak terbatas; yang dilakukan terhadap salah seorang dari pasangan suami  isteri atas permintaan yang bersangkutan, secara mantap dan sukarela. Kontap dapat diikuti baik oleh wanita maupun pria.  Tindakan kontap pada wanita disebut kontap wanita atau  MOW (Metoda Operasi Wanita ) atau tubektomi, sedangkan pada pria MOP (Metoda Operasi Pria) atau vasektomi.

Mow dasar :oklusi tuba pallopii sehingga spermatozoa dan ovum tidak dapat bertemu.untuk memperoleh tersebut ,diperlukan 2 langkah tindakan yaitu:mencapai tuba pollopii dan oklusi/penutupan tuba pollopii.tetapi diseluruh dunia ,kontap – pria masih merupakan metode yang “terabaikan “dan kurang mendapat perhatian ,baik dari pihak pria /suami maupun petugas medis keluarga berencana.


BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian

Kontrasepsi mantap (kontap ) adalah suatu tindakan untuk membatasi keturunan dalam jangka waktu yang tidak terbatas; yang dilakukan terhadap salah seorang dari pasangan suami  isteri atas permintaan yang bersangkutan, secara mantap dan sukarela. Kontap dapat diikuti baik oleh wanita maupun pria.  Tindakan kontap pada wanita disebut kontap wanita atau  MOW (Metoda Operasi Wanita ) atau tubektomi, sedangkan pada pria MOP (Metoda Operasi Pria) atau vasektomi.

Kontrasepsi mantap pada wanita  atau  MOW (Metoda Operasi Wanita) atau tubektomi, yaitu Merupakan salah satu cara kontrasepsi bagi perempuan melalui operasi atau pemotongan saluran indung telur, sehingga menghambat pertemuan antara sperma dan sel telur. Kontrasepsi  ini diperuntukan hanya untuk ibu yang tidak menginginkan anak lagi. Peserta kontrasepsi tubektomi harus menandatangani surat persetujuan yang ditandatangani suami

Kontrasepsi mantap pada pria atau MOP (Metoda Operasi Pria) atau vasektomi., yaitu tindakan pengikatan dan pemotongan  saluran benih agar sperma tidak keluar dari buah zakar. VASEKTOMI (METODE OPERASI PRIA –MOP) Adalah cara kontrasepsi bagi pria (suami) dengan mengikat saluran sperma melalui sebuah operasi ringan (kecil), sehingga sperma tidak bertemu dengan sel telur atau tidak terjadi pembuahan. Vasektomi hanyan diperuntukan bagi suami atau laki-laki yang tidak menginginkan anak lagi. Pemakaian harus menandatangani surat persetujuan yang ditandatangani istri.

Penatalaksanaan klinis
Tubektomi (MOW)
pemeriksaan
  1. Pemeriksaan fisik umum sebaiknya mengidentifikasi adanya resiko untuk anesthesia dan semua factor yang mungkin merupakan kontraindikasi atau menimbulkan komplikasi operasi abdomen atau kegemukan yang berlebihan.
  2. Pemeriksaan panggul ,untuk menyingkirkan adanya patologi masalahnya kista ovarium atau fibroid ,harus dilakukan dan apabila diindikasikan juga dilakukan pemeriksaan apusan serviks.
Penentuan waktu penatalaksanaan operasi dan anjura praoperasi
  1. Serilisasi dapat dilakukan kapan saja pada siklus menstruasi .sebelum operasi harus dilakulan pemeriksaan kehamilan apabila wanita mengalami keterlambatan mentruasi dan merasa dirinya hamil .
  2. Kuretase rutin saat prosedur untuk mencegah kehamilan pada fase luteal tidak dianjurkan dan beresiko bertentangan dengan abortion act.
  3. Kontrasepsi reversible sebaiknya dilanjutkan sampai saat operasi .pil kombinasi tidak perlu dihentikan sebelum sterilisasi kerena resiko komplikasi tromboembolus dapat diabaikan .apabila dapat AKDR in situ,maka alat tersebut harus dikeluarkan ,kecuali apabila operasi dilakukan pada pertengahan siklus dan telah terjadi hubungan intim dalam beberapa hari sebelumnya .
  4. Sterilisasi segera setelah dilahirkan atau aborsi lebih besar kemungkinannya disesali dan ,seperti setelah dibahas sebelumnya ,memiliki resiko lebih banyak.
  5. Daerah pubis atau abdomen tidak perlu dicukur sebelum laparoskopi atau mini laparatomi.
Anjuran pascaoprasi
  1. Insisi kulit yang ditutup dengan benang yang dapat diserap tidak memerlukan terapi lebih lanjut.apabila digunakan klip atau benang yang tidak diserap maka alat – alat tersebut harus diangkat sebelum pasien dipulangkan ,atau dibuat janji untuk mengangkatnya dirumah .
  2. Mungkir terdapat sedikit memar dan rasa tidak nyaman disekitar luka setelah beberapa hari .
  3. Gas yang ditinggal dirongga peritoneum sering menyebabkan rasa tidak nyaman di perut atau nyeri bahu selama 24 jam sampai 48 jam .
  4. Sebagian wanita dapat kembali bekerja dalam 48 jam setelah sterilisasi.
  5. Penyembuhan luka mini laparotomi memerlukan beberapa hari lebih lama dan pasien sebaiknya menghindar dari mengangkat benda yang berat selama sekitar 3 minggu.
  6. Sterilisasi wanita dapat segera efektif dan aktivitas seksual dapat pulih saat pasangan menginginkannya .
Tindak lanjut
  1. Kembalinya menstruasi mungkin tertunda pada wanita yang berhenti menggunakan pil .namun ,pasien mengalami amenore,maka kehamilan harus selalu disingkirkan terlebih dahulu karena pasien mungkin sudah hamil saat sterilisasi dilakukan .apabila sebelumnya ia menggunakan AKDR ,maka periksalah apakah alat tersebut sudah dikeluarkan ;kadang – kadang AKDR terlupakan .
            Vasektomi (MOP)
pengkajian
Selain hal – hal yang tercakup dalam konseling,riwayat harus juga diketahui untuk menyingkirkan semua factor yang dapat mempersulit operasi dan yang mungkin menentukan apakahapakah perlu digunakan AU atau AL.pengkajian riwayat harus mencakup:
  1. Riwyat operasi didaerah genital atau inguital
  2. Riwayat reaksi terhadap AL atau kontraindikasi terhadap AU (termasuk kekuatan atau ansietas berlebih)
pemeriksaan
pada beberapa klinik KB ,dengan vasektomi dilakukan dibawah AL,pria menjalani konseling dengan perawat dengan dokter dan tidak diperiksa keahli bedah sampai saat operasi .dalam hal ini sebaiknya pria tersebut diperiksa sebelum ia dianjurkan menjalani vasektomi.akan mengganggu pasien dan membuang waktu operasi sia – sia apabila hingga waktu persiapan untuk operasi suatu masalah yang menyebabkan vasektomi tidak bisa dilaksanakan belum diungkap.
Penentuan saat operasi
Beberapa ahli bedah menolah melakukan vasektomi pada pria yang istrinya  hamil dan bersikeras bahwa operasi harus ditunda sampai sang istri melahirkan bayi yang sehat .walapun hal ini termasuk masuk akal bagi sebagian besar dokter ,namun beberapa pasangan memandang kehamilan sebagai waktu yang paling tepat agar vasektomidapat menjadi efektif.dalam kaitannya dalam penentuan waktu operasi,pertimbangan sebaiknya didasarkan pada masing – masing pasangan .

Anjura preoperasi dan pascaoperasi: tindak lanjut
  1. Pasien biasanya diminta untuk mencukur sendiri srotum bagian atas sebelum ia operasi ,hal ini menghemat waktu dan mengurangi rasa malu.
  2. Ia dianjurkan mengenakan celana pendek yang dapat menyangga srotum dengan baik selama beberapa hari setelah operasi .
  3. Sebagian besar pria kembali bekerja pada beberapa hari berikutnya tetapi resiko terbentuknya hematommengkin dapat dikurangi apabila pria tersebut dapat menghindari perkerjaan fisik berat selama 3 – 4 hari .
  4.  Harus dipejelas bahwa dibutuhkan waktu agar sisa sperma lenyap dari bagian distal vas deperens dan pasangan tersebut harus menggunakan metode kontrasepsi alternative sampai menjadi azoospermia.
  5. Pria yang mengalami komplikasi atau kegagalan vasektomi tampak mudah mengajukan tuntutan.untuk menghindarinya maka konseling untuk vasektomi harus jelas dan terinci dan mencangkup semua kemungkinan
Komplikasi
Tubektomi (MOW)
  • Komplikasi segera
  • Komplikasi lambat 
a)      Pola pendarahan menstruasi
b)      Sindrom pasca sterilisasi tuba
c)      Obstruksi usus
d)      Kehamilan ektopik
e)      Kanker ovarium
 Vasektomi (MOP)
  • Timbul segera
  1. Memar dan hematom
  2. Infeksi luka operasi
  3. Kegagalan
  • Timbul lambat
  1. Granuloma sperma
  2. Rasa tidak nyaman dan nyeri intraskrotum kronik
  3. Rekanalisasi lambat
  4. Antibodi antisperma
  5. Penyakit kardiovaskular,endokrin dan autoimun
Cara Kerja
            Tubektomi (MOW)
Perjalanan sel telur terhambat karena saluran sel telur tertutup
            Vasektomi (MOP)
Saluran benih tertutup, sehingga tidak dapat menyalurkan sperma

Keuntungan
Secara umum keuntungan kontap wanita dan pria dibandingkan dengan kontrasepsi lain adalah :
•    Lebih aman, karena keluhan lebih sedikit dibandingkan dengan cara kontrasepsi lain
•    Lebih praktis, karena hanya memerlukan satu kali tindakan saja
•    Lebih efektif, karena tingkat kegagalannya sangat kecil dan merupakan cara kontrasepsi  
      yang permanen
•    Lebih ekonomis, karena hanya memrlukan biaya untuk satu kali tindakan saja

Secara khusus keuntungan kontap wanita dan pria adalah :
Tubektomi (MOW)
o    Sangat efektif dan “permanen”
o    Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99%
o    Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
o    Tidak mempengaruhi proses menyusui
o    Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
o    Tidak menggangu hubungan seksual
 Vasektomi (MOP)
o    Sangat efektif dan “permanen”
o    Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
o    Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99%
o    Tidak menggangu hubungan seksual
o    Tindakan bedah yang aman dan sederhana,Tidak perlu dirawat di rumah sakit ,karena hanya berlangsung selam 10-15 menit.

Kerugian
Tubektomi (MOW)
o    Rasa sakit/ketidak nyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan
o    Ada kemungkinan mengalami resiko pembedahan
Kelemahan /Efek Samping
•Harus ada tindakan pembedahan
•Tidak dilakukan pada suami yang masih ingin memiliki anak
•Kadang-kadang terasa nyeri, atau terjadi pendarahan setelah operasi
•Kadang-kadang timbul infeksi pada kulit skrotum, apabila operasinya tidak sesuai dengan prosedur
 Vasektomi (MOP)
o    Tidak dapat dilakukan pada orang yang masih ingin memiliki anak
o    Harus ada tindakan pembedashan minor.
Kelemahan/Efek Samping
•Risiko dan efek samping pembedahan
•Kadang-kadang sedikit merasa nyeri pada saat operasi
•Infeksi mungkin saja terjadi, bila prosedur operasi tidak benar
Persyaratan
Setiap peserta kontap harus memenuhi 3 syarat, yaitu:
1.    Sukarela
        Setiap calon peserta kontap harus secara sukarela menerima pelayanan kontap; artinya secara sadar dan dengan kemauan sendiri memilih kontap sebagai cara kontrasepsi
2.    Bahagia
Setiap calon peserta kontap harus memenuhi syarat bahagia; artinya :
•    calon peserta tersebut dalam perkawinan yang sah dan harmonis dan  telah dianugerahi sekurang-kurangnya 2 orang anak yang sehat rohani dan jasmani
•    bila hanya mempunyai 2 orang anak, maka anak yang terkecil paling sedikit
     umur sekitar 2 tahun
•    umur isteri paling muda sekitar 25 tahun
             3.    Kesehatan
       Setiap calon peserta kontap harus memenuhi syarat kesehatan; artinya tidak ditemukan adanya hambatan atau kontraindikasi untuk menjalani kontap. Oleh karena itu setiap calon peserta harus diperiksa terlebih dahulu kesehatannya oleh dokter, sehingga diketahui apakah cukup sehat untuk dikontap atau tidak.
               Selain itu juga setiap calon peserta kontap harus mengikuti konseling (bimbingan tatap muka) dan menandatangani formulir persetujuan tindakan medik (Informed Consent)

Indikasi

               Tubektomi (MOW)
o    Usia lebih dari 26 tahun
o    Sudah punya anak cukup (2 anak), ank terkecil harus berusia minimal 5 (lima) tahun
o    Yakin telah mempunyai keluarga yag sesuai dengan kehendaknya
o    Pada kehamilannya akan menimbulkan risiko kesehatan yang serius
o    Ibu pascapersalinan
o    Ibu pasca keguguran
Vasektomi (MOP)
o    Untuk laki-laki subur sudah punya anak cukup (2 anak) dan istri beresiko tinggi

Kontraindikasi

               Tubektomi (MOW)
o    Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)
o    Menderita tekanan darh tinggi
o    Kencing manis (diabetes)
o    Penyakit jantung
o    Penyakit paru-paru
o    Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi)
o    Infeksi sistemik atau pelvik yang akut (hingga masalah itu disembuhkan atau dikontrol)
o    Ibu yang tidak boleh menjalani pembedahan
o    Kurang pati mengenai keinginannya untuk fertilisasi di masa depan
o    Belum memberikan persetujuan tertulis


              Vasektomi (MOP)
o    Infeksi kulit atu jamur di daerah kemaluan
o    Menderita kencing manis
o    Hidrokel atau varikokel yang besar
o    Hernia inguinalis
o    Anemia berat, ganguan pembekuan darah atau sedang menggunakan antikoagulansia

Waktu pelaksanaan

          Tubektomi (MOW)
o    Setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini secara rasional klien tersebut tidak hamil
o    Hari ke-6 hingga ke-13 dari siklus menstruasi
o    Pascapersalinan
-    Minilap: di dalam  waktu 2 hari atau setelah 6 minggu atau 12 minggu
-    Laparoskopi: tidak tepat unntuk klie-klien pasca persalinan
o    Pasca keguguran
-      Triwulan pertama: dalam wakru 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik) minilap atau laparoskopi)
-    Triwulan kedua: dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap saja)
           Vasektomi (MOP)
o    Tidak ada batasan usia, dapat dilaksanakan bila diinginkan. Yang penting sudah memenuhi syarat sukarela, bahagia, dan kesehatan.
o    Istri beresiko tinggi
Kembalinya Kesuburan
Tubektomi (MOW)
                Sama seperti halnya metode tubektomi ,sebelum melakukan metode vasektomi harus dipertimbangkan secara matang.Meskipun saluran sperma dipotong atau diikat dapat disambung kembali,namun tingkat keberhasilan untuk hamil lagi sangat kecil.
Vasektomi (MOP)
                Karena metode tubektomi merupakan kontrasepsi permanen, sebelum mengambil keputusan untuk tubemtomi, istri dan suami terlebih dahulu harus mem- pertimbangkannya secara matang. Meskipun saluran telur yang tadinya dipotong atau diikat dapat disambung kembali,namun tingkat keberhasilan untuk hamil lagi sangat kecil.

Tempat Pelayanan

Tubektomi (MOW)
             Pelayanan penyakit dapat diperoleh di rumah sakit, klinik KB, momentum (KB-Kes Manunggal TNI, KB-Kes Bhayangkara, KB-Kes PKK).Dokter dan Bidan Praktik Swasta terlatih.
Jangan Menggunakan Tubektomi, jika:
Memiliki penyakit jantung dan paru-paru. Hernia Diafragmatika atau turunnya rongga dada. Hernia Umbilikalis (turunnya tali pusar) dan Peritonitis Akut (radang selaput perut).
Vasektomi (MOP)
             Pelayanan vasektomi dapat diperoleh diRumah Sakit, Klinik KB, Tim KB Keliling (TKBK), Momentum (KB-Kes-Manunggal TNI, KB-Kes Bhayangkara, KB-Kes PKK), Dokter dan Bidan Praktik Swasta terlatih
Persiapan Sebelum Tindakan
    Tubektomi (MOW)
    Hal-hal yang perlu dilakukan oleh calon peserta kontap wanita adalah:
1.    Puasa mulai tengah malam sebelum operasi, atau sekurang-kurangnya 6 jam sebelum operasi. Bagi calon akseptor yang menderita Maag (kelaianan lambung agar makan obat maag sebelum dan sesudah puasa
2.    Mandi dan membersihkan daerah kemaluan dengan sabun mandi sampai bersih, dan juga daerah perut bagian bawah
3.    Tidak memakai perhiasan, kosmetik, cat kuku, dll
4.    Membawa surat persetujuan dari suami yang sudah ditandatangani atau di cap jempol
5.    Menjelang operasi harus kencing terlebih dahulu
6.    Datang ke rumah sakit tepat pada waktunya, dengan ditemani anggota keluarga; sebaiknya suami.

Vasektomi (MOP)
       Hal-hal yang perlu dilakukan oleh calon peserta kontap pria adalah:
1.    Tidur dan istirahat cukup
2.     Mandi dan memebersihkan daerah sekitar kemaluan
3.    Makan terlebih dahulu sebelum berangkat ke klinik
4.    Datang ke klinik tempat operasi dengan pengantar
5.    Jangan lupa membawa surat persetujuan isteri yang ditandatangani atau cap jempol

Perawatan Setelah Tindakan

Tubektomi (MOW)
1.    Istirahat selama 1-2 hari dan hindarkan kerja berat selama 7 hari
2.     kebersihan harus dijaga terutama daerah luka operasi jangan sampai terkena air selama 1 minggu (sampai  benar -benar kering)
3.    Makanlah obat yang diberikan dokter secara teratur sesuai petunjuk
4.    senggama boleh dilakukan setelah 1 minggu, yaitu setelah luka operasi kering. Tetapi bila tubektomi dilaksanakan setelahmelahirkan atau kegugurang, senggama baru boleh dilakukan setelah 40 hari
Vasektomi (MOP)
1. Istirahat selama 1-2 hari dan hindarkan kerja berat selama 7 hari
2. Jagalah kebersihan dnegan membersihkan diri secara teratur dan jaga agar
    luka bekas operasi tidak terkena air atau kotoran
3  Makanlah obat yang diberikan dokter secara teratur sesuai petunjuk
4  Pakailah celana dalam yang kering dan bersih, dan jangan lupa
     menggantinya setiap hari
5.Janganlah bersenggama bila luka belum sembuh. Boleh berhubungan seksual setelah tujuh hari setelah operasi.  Bila isteri tidak menggunakan alat  kontrasepsi, senggama dilakuakn dengan memakai kondom sampai 3 bulan  setelah operasi.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pelayanan KB Mandiri melalui dokter, bidan praktek swasta, apotik, toko obat atau sarana pelayanan lainnya tersebut merupakan peningkatan peranan oleh tanggung jawab masyarakat baik perorangan, organisasi profesi maupun sektor swasta dalam pelaksanaan kegiatan KB, sehingga dengan demikian kegiatan ini merupakan perwujudan dari pelembagaan dan pembudayaan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera sehingga dengan demikian kegiatan ini perlu terus di bina dan dikembangkan sehingga dapat menjangkau ke seluruh kota / wilayah di tanah air.

B. Saran
Aturan-aturan yang diterbitkan hendaknya tetap berpedoman pada pengamanan dengan kemudahan yang maksimal, sehingga maksud untuk menyenangkan masyarakat dengan kesertaan KB yang profesional dan bermutu tinggi dapat tercapai dengan baik.





Daftar Pustaka
Anna glasier dan ailsa gabbie(2002),keluarga berencana dan kesehatan reproduksi edisi 4,Jakarta : EGC
            Hanafi hatanto .Dr(1994),keluarga berencana dan kontrasepsi, Jakarta : pustaka sinar harapan
            Speroff dan darney(1996),pedoman klinis kontrasepsi edisi 2, Jakarta : EGC
            www.google.com 

No comments:

Post a Comment

Post a Comment